Selasa, 16 Maret 2010

Discover Bromo Tengger Semeru National Park


Perjalan ini sangat penting buatku, karena kebanyakan orang sudah penah mengunjungi ini, karena tempatnya dapat di tempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Bromo Tengger Semeru National Park. Kami berangkat berempat. Ada jojok, eto, dan tewur.

Tanggal 25 kami berangkat selepas solat jum’at. Ketika aku berangkat, hari itu hujan, tapi kami nekat saja berangkat. Selain kami pikir di sekitar tumpang tidak hujan, kami juga ingin segera sampai sebelum hari gelap. Aku tak pernah melewati jalur ini, tapi eto dan jojok pernah lewat. Setelah aku melihat sendiri medannya benar-benar di luar bayanganku. Aku memakai sepeda Shogun 125 SP, dan eto memakai speda Trail Kawasakinya. Sampai di Coban Pelangi sekitar pukul 6 malam. Masih hujan, dan kami tak mengira akan menjumpai kabut tebal. Jalannya naik curam dan berkelok-kelok tajam, perasaanku mulai tak enak, karena gelap dan kabutnya seperti di Film-film Horor sampah di televisi. Apalagi sinar lampu dari sepeda dipadu dengan kabut tebal membuat ROL di depan kami sehingga pandangan semakin membatasi pandangan mata. Kira-kira jarak pandang saat itu hanya sekitar 3 meter saja. Aku hanya berharap tidak muncul jurang secara tiba-tiba saja, karena jalanan horror itu seolah hanya muncul sekenanya saja, tiba-tiba tikung kiri tikung kanan.

Semakin ke atas kabut semakin menghilang, jadi agak lega, dan kami menemui setitik terang lampu. Kami heran disini ada listrik, ternyata PLN sekarang sudah maju. Lampu itu adalah desa ngadas yang kutemui di narasi yang aku download untuk membimbing perjalananku kali ini. Desa ini cukup sepi, mungkiin karena sudah agak malam. Disini kami menemuai rumah-rumah dan petak-petak kebun. Perjalanan seperti itu kami tempuh sekitar 1 setengah jam hingga keluar dari desa Ngadas. Beberapa meter saja dari desa ngadas dapat di temui pertigaan ke kiri ke arah bromo sedangkan ke kanan ke arah Ranupani, sebenarnya dua tempat itu ingin aku kunjungi, tapi Karena waktu yang tidak banyak kami tidak bisa mengunjungi Ranupani. Di pertigaan itu ada gubuk, yang sebenarnya bisa melihat kea rah bukit teletubbies. Tapi karena malam hari kami tak bisa melihat apa-apa. Bahkan plang penunjuk arahpun tidak bisa terlihat, sehingga sekumpulan orang harus bertanya pada kami mana arah ke bromo. Kami istirahat sebentar di gubuk itu untuk menghisap rokok. Tanganku hampir membeku, sulit digerakan karena sudah sangat dingin. Setelah agak puas beristirahat kami teruskan perjalanan. Mulai dari pertigaaan itu jalannya akan turun terus baik ke arah bromo maupun ke arah Ranupani. Kami turun terus hingga kami berada di antara bukit teletubbies, karena terlalu gelap kami hanya bisa melihat tanaman hijau di kiri-kanan kami, yang sebenarnya menyimpan keindahan pada siang hari. Setelah sekitar 15 menit, tanaman hijau hilang digantikan pasir-pasir yang tiada habisnya. Kami mengarungi lautan pasir yang sulit di lewati oleh sepeda motor biasa, kami buta arah, patokan kami hanya kerlip lampu dari jauh, agak di atas, yang kami tebak itu Cemoro Lawang tempat kami akan menginap di camp ground. Setelah kami tempuh ribuan meter di lautan pasir kami mencari-cari jalan untuk naik ke Cemoro Lawang yang tidak terlihat karena kelamnya malam dan kabut tipis, padahal jalannya di depan kami. Kami langsung naik ke atas, mengambil jalan singkat tanpa melewati keramaian di semacam terminal dan langsung menuju camp ground. Camp ground berada di atas Lava Café. Kami harus melengkapi administrasi sederhana yang di urus oleh mungkin menurutku merka relawan pecinta alam yang mengurus camp ground dan menetap di sana. Panggilan Alam memang luar biasa. Bisa di lihat dari pakian mereka yang bermerk berbagai Outdoor Equipment yang aku tahu berbandrol mahal. Mereka juga berpesan soal sampah dan lain-lain yang seharusnya tidak usah disampaikan padaku, karena kami rombongan pecinta alam. Tapi aku dengarkan saja, karena aku tahu maksud mereka baik.

Aku dan jojok langsung menuju camp dan mendirikan tenda, sedangkan tewur pingin buang air, jadi eto mengantarkan sekalian aku minta mereka membeli arang. Sepeda kuparkir di sebelah tenda, aku tak mau kehilangan sepeda untuk kedua kalinya. Setelah membangun camp kami mulai memasak, karena kami tidak membawa kompor gas, kami mengandalkan paraffin untuk memasak. Tewur dan Eto datang membawa arang yang akan kami manfaatkan untuk menghangatkan tubuh, karena cuaca hujan tidak mungkin meninggalkan ranting-ranting kering untuk perapian. Setelah makan kami menikmati malam dengan menghirup kopi dan menghisap rokok, sambil berdiskusi untuk rencana esok hari, kami juga menyiapkan “penghangat” untuk melewati malam ini. Hanya jojok yang tidak suka penghangat, dia lebih memilih arang. Ahirnya Eto memutuskan pulang pagi ini karena sepeda motornya harus pulang. Tewur harus ikut Eto. Aku dan Jojok memutuskan menginap semalam lagi. Bekal logistic kami masih cukup.

Eto dan Tewur pulang pagi sekali tanpa menelan sarapan dahulu. Setelah matahari sudah agak jelas dan diiringi kabut tipis. Aku dan Jojok meramu sarapan berupa nasi, tempe rock n roll, dan telur rock n roll juga. Nikmat kawan. Kami juga mengambil gambar dari posisi kami. Kami tak mau melewatkan keindahan dari atas sini. Mobil-mobil jeep terlihat sangat kecil, manusia lebih kecil lagi, kawah yang terus mengepulkan asap belerang, juga gunung Batok yang gagah. Setelah berkemas, aku dan Jojok memutuskan untuk menghabiskan hari ini berkeliling Taman Nasional. Tujuan pertama ke Kawah Bromo, ke Bukit Teletubbies, lalu kami akan ke Penanjakan dan bermalam di sana.

Kami menuju Kawah Bromo. Menuruni Cemoro Lawang, lalu menyusuri jalanan di Lautan Pasir yang biasa dilalui Jeep-jeep di samping patok-patok pembatas agar kendaraan bermotor tidak langsung masuk menuju Kawah. Kendaraan bermotor harus diparkir di luar. Sepeda motor yang parker akan langsung di hampiri beberapa orang Tengger yang menawarkan Kudanya, “50 ribu mas, sampai Kawah”. Tentu saja kami menolak, uang kami bukan untuk itu. Orang-orang ini biasanya akan mengikuti calon penyewa sampai ke dekat kawah, sambil terus menawari, menunggu mereka bila berubah pikiran. Kami berjalan ke Kawah sambil terus mengambil gambar. Melewati samping Gunung Batok yang bentuknya simetris, terlihat gagah disamping Kawah Bromo. Jalan menanjak hingga akhirnya kami sampai di tangga menuju Kawah. Sampainya diatas dapat dicium bau belerang yang tidak terlalu mengganggu. Sangat luas lubang Kawah itu. Kalau mau Kawah tersebut dapat dinikmati dengan berjalan memutarinya melalui jalan sempit, kanan Kawah Bromo, kiri jurang, silahkan dilalui. Sebenarnya dari narasi yang aku baca, kita bisa tracking ke Gunung-gunung di belakan Kawah melalui jalan sempit itu.

Setelah kami turun kembali ke area parkir, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Bukit Teletubiies dengan menyeberangi Lautan Pasir. Setelah sekitar 45 menit kami menjumpai hamparan luas vegetasi hijau, hanya warna hijau sejauh mata memandang, jarang pohon tinggi, ini padang sabana raksasa. Tak pernah aku lihat yang seperti ini. Sebenarnya kami sudah melewati area ini pada malam sebelumnya. Tapi karena terlalu gelap, kami tak bisa melihat indahnya. Sekarang kami tahu.

Kami berhenti di sebuah pondok untuk menikmati keindahan padang sabana raksasa ini. Sedikit mengisi perut dengan coklat, sungguh cara yang baik untuk menikmati alam. Tak lupa kami mengambil gambar dan mencari sudut yang bagus. Aku sempat tertidur sejenak ketika beristirahat di bawah pondok yang teduh dibelai angin padang sabana.

Karena cuaca semakin mendung dan kami juga sudah puas menikmati bukit teletubbies, kami memutuskan untuk segera menuju titik selanjutnya yang akan menjadi tampat kami bermalam. Kembali menyusuri ribuan meter lautan pasir yang terhampar luas, kami menuju kearah Penanjakan. Kami mampir dulu di Cemorokandang untuk membeli arang, penghangat untuk malam ini. Setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu dibeli, kami langsung meluncur ke Penanjakan. Melewati beberapa bukit sampai akhirnya menemui jalan aspal yang menanjak curam dan rusak berat. Penanjakan merupakn tempat yang merupakan titik paling tinggi di Taman Nasional.


bersambung........


Rabu, 10 Maret 2010

Tugas TIK

Sejarah dan Perkembangan Kamera Digital
Nama : M. Mirza Arif Z.
NIM : 091048017
Dosen : Dr. Ir. H. Anaton Muhibuddin, MP.

Kamera digital adalah teknologi yang terkait langsung dan berkembang dari teknologi yang sama seperti ketika berfungsi untuk merekam gambar pada televisi. Pada tahun 1951, untuk pertama kalinya video tape recorder (VTR) mengambil gambar dari kamera televisi, kemudian mengkonversi informasi tersebut menjadi suatu impuls listrik (digital) dan menyimpan informasi tersebut ke dalam tape magnetis.

Bing Crosby Laboratorium (tim peneliti yang didanai oleh seorang insinyur bernama Vrosby dan dipimpin oleh John Mullin) membuat versi awal dari VTR. Pada tahun 1956, teknologi VTR telah disempurnakan (VR1000 yang dibuat oleh Charles P. Ginsburg dan Ampex Corporation) dan umum dipakai oleh industri televisi. Antara televisi/kamera video dan kamera digital yang menggunakan CCD (Charged Couple Device)untuk mengatur warna dan intensitas cahaya. Pada saat itu pula era kamera digital telah dimulai dengan sangat pesat.

Pada tahun 1981, Sony memperkenalkan kamera elektronik komersil pertama mereka yang disebut Mavica. Gambar yang direkam ke mini disc dan kemudian dimasukkan ke dalam video reader yang terhubung ke monitor atau televisi warna. Walaupun Mavica belum dapat dikatakan kamera digital, itu sebenarnya merupakan modifikasi kamera video yang mengambil foto secara spontan.

Sejak pertengahan tahun 1970-an, Kodak memiliki beberapa penemuan tentang solid-state/kejernihan untuk sensor gambar yaitu mengubah cahaya ke gambar digital untuk penggunaan pada tingkat profesional dan konsumen rumah tangga. Pada tahun 1886, ilmuwan Kodak untuk pertama kalinya di dunia mengenalkan sensor megapixel, dimana sensor ini mampu merekam 1,4 juta pixel yang dapat menghasilkan 5x7 inci foto digital cetak berkualitas baik pada saat itu. Pada tahun 1987, Kodak merilis tujuh produk untuk merekam, menyimpan, memanipulasi, transmisi elektronik, dan mencetak sesuatu seperti gambar suatu objek.

Pada tahun 1990, Kodak mengembangkan sistem foto CD dan mengusulkan pertama kalinya di seluruh dunia untuk menetapkan standar warna digital dalam lingkungan komputer dan peripheral komputer. Pada tahun 1991, Kodak merilis pertama kalinya untuk para profesional, suatu sistem dalam pemotretan yanitu Digital Camera System (DCS), yang bertujuan untuk photo journalist. Kamera tersebut adalah Nikon F-# yang dilengkapi dengan sensor 1.3 Megapixels.

Kamera digital yang pertama untuk tingkat konsumen pasar yang bekerja dengan komputer rumah melalui USB (Unit serial Bus) adalah kamera QuickTake 100 Aplle (17 Februari 1994), kamera Kodak DC40 (28 maret 1995), Casio QV-11 (dengan monitor LCD, akhir 1995), dan Sony Cyber-Shot Digital Still Camera (1996). Namun, kodak memasuki era tersebut dengan agresif kampanye pemasaran untuk memajukan DC40 dan membantu memperkenalkan gagasan digital fotografi kepada masyarakat.

Kinko's dan Microsoft bekerja sama dengan Kodak Digital untuk membuat gambar digital yang menggunakan software di berbagai tempat kerja dan kios foto, dimana para pelanggan diizinkan untuk memproduksi CD foto, gambar digital, dan kemudian dapat menambahkan ke dokumen komputer mereka. IBM bekerja sama dengan Kodak membaut internet berbasis jaringan pertukaran gambar.

Hewlett-Packard (HP) adalah perusahaan pertama dalam hal membuat warna di produk mereka yaitu Inkjet Printer, sehingga melengkapi sistem pewarnaan untuk gambar yang dicetak dari kamera digital. Maka dimulailah perubahan kamera digital dengan bentuk yang baru. Kamera digital seperti kamera konvesional, tersedia model Point-And-Shot dan lensa refleks tunggal digital atau Digital Single Lens Reflector (DSLR).
Point-and-Shoot Camera adalah kamera kecil, murah, dan mudah digunakan, karena kamera tersebut hanya berisi lensa dan built-in flash. Untuk mendapatkan bingkai gambar, kamera tersebut memiliki Liquid Crystal Display (LCD) berbasi viewfinder. Keuntungan dan kerugian dari model Poit-And-Shoot adalah bahwa kamera tersebut dirancang agar memudahkan dalam penggunaan. Walaupun model ini masih memiliki keterbatasan yaitu penggunaan kontrol atas kamera. Beberapa kamera ada yang mengatru fokus dan eksposur secara otomatis.
DSLR Camera adalah kamera dengan model kebalikan dari Point-And_shoot Camera. Kamera DSLR memiliki optical viewfinders, removable lens, external flash, dan kemampuan untuk fikus serta kemampuan untuk menyesuaikan eksposur secara manual bila diperlukan. Ini merupakan pengganti langsung dari kamera yang menggunakan negative film berbasis model lensa refleks tunggal atau Single Lens Reflex (SLR) yang digunakan kebanyakan orang pada zaman dahulu. Untuk alasan ini, kamera DSLR cenderung lebih rumit dan mahal dibandingkan kamera model Point-And-Shoot. Generasi awal model DSLR cenderung lebih mahal dan lebih besar dari kamera yang menggunakan negative film. Pada saat ini hal ini tidak lagi terjadi, karena kamera DSLR menjadi lebih murah, ringan, dan lebih kompak sesuai dengan perkembangan zaman, bahkan generasi terbaru dapat menampilkan kualitas gambar High Definition.