Ahirnya smua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang tlah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku seperti dahulu?
Ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata: kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam segala hal,kecuali dalam cinta
Haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram
Wajah2 yang tak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tak kita mengerti
Seperti kabut pagi itu
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu sayangku
Bebicara tentang anjing2 kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
Ada serdadu2 amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu manisku
Ketika kita telah bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tau
Mari sini sayangku, kalian yang pernah mesra
Yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak akan penah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tesial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu