Rabu, 03 Februari 2010

Puisi Cahaya Bulan




Ahirnya smua akan tiba pada suatu hari yang biasa

Pada suatu ketika yang tlah lama kita ketahui

Apakah kau masih selembut dahulu?

Memintaku minum susu dan tidur yang lelap

Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi

Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan hutan yang menjadi suram

Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku seperti dahulu?

Ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Apakah kau masih akan berkata: kudengar detak jantungmu

Kita begitu berbeda dalam segala hal,kecuali dalam cinta

Haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram

Wajah2 yang tak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tak kita mengerti

Seperti kabut pagi itu

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah

Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di

Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu sayangku

Bebicara tentang anjing2 kita yang nakal dan lucu

Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi

Ada serdadu2 amerika yang mati kena bom di danau

Ada bayi yang mati lapar di Biafra

Tapi aku ingin mati disisimu manisku

Ketika kita telah bosan hidup dan terus bertanya-tanya

Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tau

Mari sini sayangku, kalian yang pernah mesra

Yang pernah baik dan simpati padaku

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa

Kita tak akan penah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan

Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda

Dan yang tesial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda

Makhluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada

Berbahagialah dalam ketiadaanmu

0 komentar:

Poskan Komentar